The light it self?
Kehidupan membawa sang pengembara ke tempat yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Tempat yang begitu indah, tidak pernah ia bayangkan sebelumnya bahwa ada tempat seperti itu di dunia. Masih diingatnya babak yang sebelumnya ia lalui. Terasa seperti angin semilir yang menerpa punggung dan tengkuknya. bagaikan aliran air dingin, sedingin es yang mengucur dari kepala, kening hingga menetes di dagunya. Pertemuannya yang pertama dengan sang penguasa tak akan pernah membuatnya lupa. Sang kehidupan masih terus berjalan membawanya. Seiring waktu yang terhenti dia memandang wajah Sang Kehidupan. Pucat pasi, senyum yang tawar… beginikah wajah sang kehidupan yang dikenalkan Sang Penguasa padaku. Tiba-tiba sang Kehidupan menatapnya sambil berkata “Aku ingin mendengar kisahmu, ceritakanlah!”.
Should the Darkness leave?
Sang pengembara membuka mulutnya..
“Aku terperanjak oleh suara itu. Aku tahu bahwa itu adalah suara Sang Penguasa. Entitas yang aku sebut Tuhan, namun aku lebih suka menyebutnya Sang Penguasa. Aku kira aku mengenalnya sebaik aku mengenal semua bagian tubuhku, namun itu hanya perkiraanku. Ternyata Dia lebih indah dari semua yang pernah aku pandang, Dia lebih tegas dari semua hakim yang pernah kukenal, Dia lebih berwibawa daripada semua guruku… Aku tak mengingat semua masa laluku, namun aku tahu bahwa tidak ada yang setara denganNya, dan ternyata aku memang belum mengenalnya sebaik yang kukira.”
“Mengapa engkau memanggilnya sang Penguasa, bukankah para imam, rasul, nabi atau apapun nama utusanNya dari golonganmu mengajarkan sebutan Tuhan bagiNya?” Sahut sang Kehidupan..
“Aku begitu ingin memanggilNya Tuhan, Bapa, Allah ataupun apapun namaNya… Namun nampaknya aku menyadari bahwa para pendahuluku pun pernah memanggilNya dengan nama itu, dan mereka gagal!!” Jawab sang pengembara..
“Gagal??” Sang kehidupan tampak bingung. Salah satu matanya mengernyit ke atas, bagaikan seorang tua yang merasa penasaran.
“Ya.. gagal!!! mereka menyebutnya Tuhan, namun itu hanyalah formalitas. Mereka menyembahnya bukan karena mencintaiNya, namun karena takut akan Dia. Mereka memberikan sebagian hartanya, sebagian hidupnya dan tetap hidup dalam keluhan karenaNya. Mereka tak sadar bahwa Dia adalah sang Penguasa atas kehidupan mereka, Hidup adalah tugas, Bernafas adalah hak istimewa dan kematian adalah anugerah. Rejeki dan musibah bukan sesuatu yang harus dipertentangkan, namun sesuatu yang harus disyukuri..” sahut sang Pengembara..
“Ya…ya…ya, aku pun tahu akan itu… tapi aku ingin mendengar ceritamu lebih lanjut.” sang kehidupan nampak begitu tak puas dengan cerita sang pengembara. Sang pengembara pun berpikir, Jika memang sang kehidupan yang berada di sampingku, maka aku tak perlu berbicara panjang lebar mengenai kehidupan… toh, dia sudah tahu semuanya…
Maka mulailah sang pengembara bercerita…
“Aku terperanjak mendengar suaraNya untuk pertama kali. Rasanya lebih keras dari sebuah guntur. Saat aku menoleh memandang wajahNya, aku menjadi pucat pasi. Lidahku begitu kelu. Serasa Dia adalah hakim terakhir yang akan kutemui dalam perjalananku untuk menemukan arti mimpi-mimpiku. Aku telah siap dihukum rasanya. Mata yang kupandang adalah mata yang bersinar dengan terang, entitas yang sempurna. Asal dari segala asal. Satu yang dipandang beragam, kehidupan yang dinyatakan sebagai yang mati. Entitas yang mulia…
“Di saat semuanya kurasa akan berakhir, Dia mengulurkan tanganNya kepadaku. Membelai wajahku, dan berbisik di telingaku…. “Temukanlah Aku, dan kau akan menemukan apa yang kau cari..” Sekejap Dia lenyap dari pandanganku. Sebagai gantinya aku melihat burung yang berbicara dalam bahasa farsi itu berkata “Temukanlah sang Kehidupan di lorong cahaya, maka kegelapan akan menuntunmu untuk mendapatkan terangmu kembali”… Sejenak aku merasa bingung, namun aku menurutinya, dan disinilah aku sekarang untuk mencapai pohon kehidupan seperti yang engkau katakan”
“Namun aku juga ingin bertanya kepadamu…. hai sang Kehidupan, mengapa engkau mempercayaiku???” Tanya sang pengembara..
Sang kehidupan tersenyum penuh arti. Kini wajahnya begitu tak berdosa bagaikan anak-anak. Dia berkata “ Karena aku pernah melihat diriku dalam dirimu, mengapa aku tak mempercayai bagian dari diriku sendiri?? Lihatlah ke depan… Pohon kehidupan berada begitu dekat dengan kita..”
The Tree of Life or The Tree or Light??
Berpijak pada lumpur yang begitu erat memegang jari-jemari kaki, sang pengembara terkesan begitu lega. Pohon kehidupan hidup diantara kotornya tanah padat kemiskinan, sisa-sisa buangan kehidupan kota, dan sampah-sampah persaingan hidup. Pohon kehidupan menancapkan akarnya begitu dalam dan membuat tanah disekitarnya begitu kokoh. Sang pengembara teringat kata-kata sang kehidupan sebelum mereka berjalan bersama menuju pohon itu.
“Pohon kehidupan bukanlah pohon biasa. Di dalamnya terdapat berbagai kenangan pahit akan kehidupan manusia. Tawa manusia-manusia berdosa membuatnya semakin bertambah besar. Rantingnya semakin jauh berkembang, menandakan bahwa pohon ini begitu sehat berkat pupuk kezaliman manusia terhadap sesamanya. Namun pohon ini adalah pohon yang hidup dari kasih, dan bertumbuh dalam kebencian, kegelapan, dosa, penyesalan dan kematian. Aneh bukan…, akan kuceritakan suatu rahasia padamu, maukah engkau menyimpannya untuk dirimu sendiri?” tanya sang kehidupan..
“Tentu saja, aku menyukai rahasia yang tersingkap bagiku perlahan demi perlahan.” sahut sang pengembara.
“Pohon yang disukai oleh sang Penguasa ini pernah akan ditebang oleh pemiliknya sendiri. Aku sebagai penjaganya hanya bisa diam menanti ajalku bersama ditebangnya pohon itu. Sang penguasa marah, karena manusia dan segala perbuatannya hanya membuat pohon itu semakin besar namun tak pernah berbuah”
“Hah…?? benarkah??” Ujar sang pengembara sambil terheran-heran…
“Ya, hampir saja kalau Dia tidak melihat kuncup-kuncup bunga tahan uji yang mulai merekah itu, Dia akan benar-benar menebangnya!! Menakutkan memang, namun akhirnya Dia mengurungkan niatnya. Kuncup-kuncup bunga tahan uji itu mekar, dan mulai menjadi buah-buah pengharapan setelah beberapa ratus tahun. Sang Penguasa pun akhirnya menjadi begitu lega. fuhhh!!! aku pun akhirnya masih hidup hingga sekarang”.
Kata-kata dan cerita sang kehidupan membawa kesan yang begitu mendalam bagi sang pengembara. Dia tersadar…. Waktu telah membawa dia hingga berhadapan dengan pohon kehidupan itu..
“Ambillah buah itu dan makanlah!!!” Sang kehidupan memberikan perintah kepada sang pengembara dengan sikap membujuk. “Aku bukanlah sang ular yang membunuh adam dengan membujuknya, aku mengatakan kebenaran untukmu… Maka ambil dan makanlah!!!”
Sang pengembara mengambil buah pengharapan dan mulai menggigitnya. Giitan pertama membuatnya merasa begitu nyaman, gigitan kedua membuatnya merasa pening dan gigitan ketiga memberikan sensasi yang begitu aneh di seluruh tubuhnya.
Setiap sel tubuhnya meronta. setiap bagian otaknya mulai bekerja. Setiap kenangan-kenangan masa lalu sang pengembara mulai keluar. Setiap kromosom tubuhnya mengingat setiap bagian kehidupan yang pernah dia jalani. Air mata demi air mata menetes bagaikan peluh dari mata sang pengembara. Dia berusaha menahan semua ingatan – ingatan itu…. namun buah pengharapan membuatnya tetap mengingat… mengingat… dan mengingat… dia berusaha, dan akhirnya dia menyerah…. dia mengingat satu demi satu kenangan itu, bagaikan serpihan kaca yang kembali menjadi jendela ingatan yang utuh… Hukum yang melawan hukum alam…. hukum yang melawan hukum entropi… dimanasemua kekacauan menjadi keteraturan, dan ingatan yang hilang tertata bagaikan susunan buku dalam suatu rak secara alfabetis…
Sang pengembara berhenti meronta. Dengan wajah memelas dia melihat sang kehidupan. Dia berkata… “aku mengingatnya… aku adalah…. aku adalah…”
To be continued…
The next: Fracture of Time…
Hari4krist
“At someone’s room, thinking that his story with someone already ended before it start… God, i need some time to think…”

Recent Comments