The dream, The hope and Despair…

30 01 2009

Seorang pengembara berjalan dengan sedikit gontai. Beban di punggungnya begitu berat. Dia berjalan begitu gontai. Matanya hanya tertuju pada tujuan terakhirnya. Matanya begitu nanar melihat kota terakhir itu. Kakinya begitu tak sabar untuk melangkahkan jejak pertamanya. Angin yang berhembus begitu keras, mengisahkan kehidupan yang begitu berat. Penolakan, hinaan, kesendirian, dan ketidak adilan. Debu dan pasir yang dia lewati menapakkan kehidupan yang begitu kotor. Sakit hati, kekecewaan, Cinta yang tak berbalas, dan matinya sebuah perasaan. Sang pengembara mungkin adalah orang yang engkau kenal. Walaupun mungkin engkau mengenalnya, nampaknya ia tidak ingin mengenalmu kembali. Hidup menjadi begitu sulit baginya, saat semua orang meninggalkannya dan meludahinya dengan kata-kata yang pahit. Kubangan dosa dalam hidupnya begitu dalam, hingga akhirnya ia memutuskan untuk tidak mengakhiri hidupnya terlebih dahulu. Ia memutuskan untuk berjalan menyusuri kota demi kota. Mengumpulkan segala keindahan dunia yang dia bisa lihat. Mengumpulkan segala kenangan dari kota yang  yang pernah dia singgahi, dan membawa semua artifak yang bisa dia temukan. Hidup tidak baik dipandang orang, namun hidup yang dipandang baik olehnya. Manusia memandang semuanya begitu nyata, namun baginya kenangan, impian dan pecahan adalah kenyataan yang lebih nyata daripada kehidupan.

 

Sang pengembara terduduk, dan termenung sejenak. Dia merasa begitu pening. Seperti dunia ini berpusing tanpa memberikan gravitasi yang mengikat kakinya. Sulit untuk mengerti perasaan ini. Dia bergumam dalam bahasa Farsi yang tidak dikenal banyak orang. Dia bergumam dalam bahasa para raja. Dia tidak mengeluh. Dia hanya bergumam. Bergumam mengenai doa-doa yang belum terjawab. Dia sadar, seringkali doa hanya bisa dipanjatkan dan mungkin tak bisa terjawab. Sebuah kenyataan yang pahit, namun harus bisa diterima oleh para manusia yang masih melangkahkan raganya di bumi. “Aku hidup dalam ragamu ya Allahku, aku hidup dalam pembelaanMu”. ” Aku hidup dalam rencanaMu ya Allahku, aku menyerahkan diriku dalam jalur kehidupan dan kematian yang telah Kau buat”. Nampaknya sang kuasa mendengarkan doa sang pengembara. Kekuatannya kembali pada raganya. kini dia siap melangkah ke kota terakhir, sebelum sang badai gurun itu menyapu habis semua harapannya lagi.

 

Sang pengembara akhirnya sampai di pintu gerbang harapan. Begitulah nama pintu gerbang itu, “pintu gerbang harapan”. Sebuah kota kecil yang seringkali dilupakan oleh orang. Kota terakhir di ujung bumi yang seringkali dirasa tidak berharga. Kota dimana orang-orang seperti sang pengembara ini membawa semua pecahan harapan mereka di masa lalu. Kota yang kecil dimana orang-orang seperti pengembara ini membawa kehidupan yang terluka. Dengan mengerahkan segenap tenaganya ia melangkah, satu langkah berharga yang membawa dia melewati pintu itu. Apakah yang dia lihat?

 

Pintu gerbang harapan bukanlah suatu pintu bagi kota yang kecil. Matanya terbelalak melihat kebesaran kota itu. Bukan karena ukuran kota yang sangat besar, ataupun banyaknya orang yang berjubel untuk melakukan aktivitas mereka. Ini semua bukan tentang itu. Kota ini bahkan jauh dari itu semua. Kota ini begitu sunyi, bahkan hanya beberapa orang yang mereka sebut sebagai “mihpares” yang menjaga kota ini tetap beroperasi. Inilah kota yang begitu jauh  dari keramaian dan hiruk pikuk kesepian manusia. Kota yang memberikan harapan baru secara gratis. kota yang akan terus hidup hingga penghujung waktu berganti. Mata sang pengembara terbelalak saat dia melihat patung di tengah kota itu. patung yang begitu besar dan bertuliskan “Disinilah dikuburkan harapan-harapan lama, Disinilah dipupuk harapan-harapan baru, Disinilah manusia-manusia harapan mengembara kembali dalam kehidupan yang sejati“. 

 

Sang pengembara memasuki pusat kota. Tidak ada orang yang menyapanya. Apakah ini yang disebut kota harapan? pikirnya. Apakah kota yang melahirkan harapan baru dan sejatinya kehidupan begitu hening seperti ini. Dia termangu, dan menunggu. Dia duduk di pojok pintu Rumah Kota. Tanpa dia sadari seekor burung terbang mendekatinya dan hinggap di pundaknya. Burung itu bergumam dalam bahasa Farsi. Burung itu tidak berkicau. Apakah aku salah mendengar? pikir sang pengembara. Tidak!! Tidak!! Aku tidak salah mendengar. Burung itu memang bergumam dalam bahasa Farsi. Bagaimana dia bisa berbicara? Pikir sang pengembara lagi. Bukan!! Bukan!! burung ini bukan bergumam, Dia melantunkan bahasa Farsi…. dan bahasa Farsi yang dia lantunkan adalah…..DOAKU!!!! Sang pengembara terkejut. Mahakarya dari ketiadaan yang ada, dan kehidupan yang disebut setelah kematian. Burung itu terbang sambil menarik pucuk baju sang pengembara. Sang pengembara pun akhirnya mengikutinya.

 

 Sang pengembara dan burung itu tiba di suatu tempat. Suatu tempat yang dirasa tak asing baginya. Banyak wanita tua disana, merajut suatu jaring. Mereka bergumam dalam bahasa Farsi yang sama dengan burung itu. Namun, setiap orang hanya memperhatikan rajutannya, dan tidak memperhatikan sang pengembara. Suatu perasaan yang aneh. Pelan-pelan sang pengembara mendekati mereka. Ia melihat mata-mata para tua yang menangis darah, tangan-tangan yang mengucurkan darah dengan deras dan mulut-mulut yang terus menggumamkan suatu doa. Sang burung mengepakkan sayapnya dan pergi, serasa dia telah menyelesaikan tugasnya di tempat ini. Sang pengembara melihat ke arah cakrawala, dan sekilas ingatannya kembali. Ruang ini bagaikan rahim ibuku? Serasa aku pernah merasakan kehangatan yang sama.. Pikir sang Pengembara.  Tiba-tiba terdengarlah suara yang begitu keras bagaikan halilintar menghardiknya “Sudah puaskah engkau melihat pekerjaan mereka”? Sambil gemetar dia menolehkan kepalanya ke arah suara itu. Seketika matanya terbelalak, dan lidahnya kelu. Tubuhnya bergidik takut dan merasa tanpa daya lagi untuk menapakkan kakinya di tanah. Dia melihat sesuatu yang dia cari selama ini. “Namun aku tak siap menemuiMu…” begitu pikir sang pengembara. Dia terjatuh dan pingsan. 

 

To be continued!!

 

Next posting … second part of the traveller

Memoir of Light”…

 

By Hari

Still waiting the rain at my office…

**





When the invitation over…

29 01 2009

Why i get into the blog again?

 

Kenapa sih saya menulis blog lagi? Kenapa saya mau untuk repot-repot berpikir dan menulis lagi? Sulit juga sih mencari alasan untuk hal ini, tetapi mungkin kehidupan dan Tuhan memiliki alasan tersendiri mengapa saya begitu ingin menulis blog lagi. Kata kuncinya hanya satu: “Berbagi!!”

 

Ya, apa yang terjadi adalah saya begitu ingin membagikan kehidupan saya. Saya tidak ingin menjadi tertutup, dan menjadi orang yang anti-blog. Itu bukan saya. Saya suka menulis dan berbagi. Saya suka melangkahkan jari-jemari saya di atas tuts yang selalu dapat menorehkan perasaan saya. Saya suka saat orang lain membaca blog saya dan mendapatkan sesuatu yang berguna untuk kehidupan mereka. Jika memang seperti itu kenyataannya, maka saya memilih untuk tidak berkubang di permasalahan saya. Saya akan menulis lagi untuk menyumbangkan sesuatu yang mungkin akan berguna untuk orang lain. Saya akan mulai menulis blog. Saya akan mulai menulis lagi. Dan semuanya bermulai dari blog ini. 

 

Why i called it hasandal?

 

Hasandal?? Anda pasti tidak familier dengan kata-kata ini, namun sebenarnya anda memakainya tiap hari. Hummm, suatu kata yang tidak wajar sebagai judul sebuah blog.  Tapi sebelum saya mulai serius dan membuat topik – topik yang orang anggap cukup teoritis, biarlah saya menjelaskan apa arti nama blog ini. hasandal adalah bahasa yahudi / hebrew untuk alas kaki. Lhoh?? Ya betul, hasandal dalam bahasa Yahudi, atau sandalion dalam bahasa Yunani akan selalu memiliki arti nama yang sama dengan sandal dalam bahasa Indonesia. 

 

Yup, berarti apakah sebenarnya nama dari blog ini. Nama seharusnya adalah sandaljepit.wordpress.com. Tapi sehubungan sandal jepit sudah dipakai, maka saya pakai nama ini. Lalu kenapa saya pakai nama konyol ini?? Bukannya masih banyak nama yang bisa dipakai dan tidak kalah keren, seperti misalnya “leadernet, contagious writing, attituderules, dll” yang bisa dipakai? ya, memang masih banyak nama yang bisa dipakai, banyak nama yang bisa dicomot untuk menggantikan nama ini. Namun, ada alasan kenapa saya memilih nama asing dengan artian yang konyol ini.

 

Why hasandal?

 

Saya banyak bertemu dengan orang-orang di sekitar saya. Saya banyak bertemu dengan orang-orang yang kehilangan penghargaan dari lingkungan sekitar mereka, terbuang, tidak memiliki teman, tidak punya pekerjaan, stress, tertekan dengan pekerjaan mereka dan berakhir dengan depresi. Apakah penderitaan mereka berakhir di situ? Tidak!! Mereka kehilangan tujuan hidup, mereka berteriak marah kepada orang lain, mereka mengumpat, mereka merusak lingkungan mereka dan pada akhirnya begitu depresinya mereka sehingga mereka kehilangan semangat untuk hidup. Bagi anda yang tidak pernah berada dalam tahap ini, bersyukurlah dan berjaga-jagalah!! Kehidupan tidak selalu berakhir baik, bahkan seringkali hal buruk begitu banyak sehingga kita dibuatnya lumpuh dan tak mampu bergerak dalam kesedihan. Apakah hidup memang dibuat begitu kejam untuk sebagian orang? Pada awalnya begitulah pemikiran saya. Hidup memang kejam, karena itu kita harus kejam, kita harus menang, kita harus kuat dan kita harus bisa lebih baik. Salahkah dugaan saya? mungkin hanya setengah benar!!

 

Saya tidak mengada-ada. Karena saat anda melihat kehidupan teman-teman saya, anda akan melihat beberapa hal yang saya lihat. Bahkan, hal-hal itu pula yang terjadi dalam kehidupan saya. Saya terjerembab dalam lubang yang saya buat sendiri, jatuh, menangis tanpa henti dan mengeluh dengan tidak pernah memandang ke atas. Tanpa saya sadari teman-teman saya melihat saya dari atas lubang itu, berteriak agar saya memanjat tali yang mereka lemparkan. Namun saya terlalu takut. Saya hanya menangis dan mengeluh, tanpa tahu bahwa mereka mulai bosan melihat saya menangis dan mulai meninggalkan saya. Bukankah hal-hal itu yang kerap terjadi atas kehidupan kita. Terjatuh dalam penyesalan diri berkepanjangan, tanpa tahu bahwa apa yang kita kerjakan selama itu nggak akan berguna untuk kehidupan kita. Oleh karena alasan inilah saya memilih nama hasandal sebagai nama blog ini. 

 

Hasandal atau sandal jepit alias alas kaki bukanlah barang yang sangat langka. Tiap hari kita memakai barang ini, bahkan begitu rutinnya kita memakai barang ini sampai kita lupa bahwa barang ini begitu berguna. Barang ini menjadi alas yang menjadi pengganti kulit kaki kita saat kita berjalan. Alas ini melindungi dari pasir dan kerikil yang begitu tajam. Alas ini memberikan kita kenyamanan akan kehidupan di sekitar kita yang begitu kotor. Dan, kenapa mereka menamakannya alas? karena memang letaknya di bawah dan menjadi pelindung saat kita berjalan atau beraktivitas. Bahkan pada beberapa kegunaan, alas kaki pun bisa menjadi penopang tubuh kita. Saya mau blog ini membawa nuansa yang lain. Saya mau blog ini membawa kehidupan yang baru. Saya ingin berbicara bahwa setiap tulisan di blog ini menjadi dasar kehidupan dan pelindung mereka saat berjalan. Paling tidak teman-teman saya yang membaca blog ini. Paling tidak saya yang menulis blog ini. Sandal adalah barang yang remeh pada suatu saat, namun sandal pada waktu yang sama adalah barang yang paling penting. 

 

Basics of Life. Hal itulah yang begitu ingin saya tulis. Sesuatu yang merupakan dasar kehidupan yang benar. Sesuatu yang membuat kita tetap bangun yang lain jatuh. Sesuatu yang akan tetap membuat kita tetap bersyukur saat kitapun juga terjatuh. Itulah, mengapa blog ini dibuat. Untuk melengkapi dan dilengkapi. Untuk menyingkap kebenaran dalam hidup dan belajar darinya. Untuk tetap bertahan..

 

When the invitation over??

Kita semua mendapatkan undangan yang begitu berharga. Sadarkah anda, bahwa anda datang ke dunia dengan sebuah undangan yang begitu berharga. Undangan untuk kehidupan kita masing-masing. Undangan untuk tetap di dunia dan berkarya dengan segenap talenta yang kita miliki. Undangan itu akan berakhir suatu saat, dan digantikan suatu tiket yang sama berharganya. Bagaikan sebuah disket ataupun usb flashdisk, setiap tiket yang kita pegang akan menjadi rekaman kehidupan kita di dunia. Tiket itu bahkan adalah sebuah access card yang memampukan kita untuk pergi ke suatu tempat, tempat yang terakhir dimana Sang Agung, Sang Mahakuat, Sang Asal Segala Kehidupan memerintah. Tempat yang mungkin begitu indah, hening atau bahkan begitu menjadi impian kita masing-masing. Tempat dimana Tuhan berada dan memerintah. 

 

Ketakutan saya adalah bukan saat Dia bertanya;

“Mengapa engkau tidak hidup seperti Hellen Keller?”

atau 

“Mengapa engkau tidak hidup seperti Steve Jobs?”

bukan itu semua ketakutan saya. Hanya satu ketakutan saya;

“MENGAPA ENGKAU TIDAK HIDUP SEPERTI SEORANG HARI KRISTOPO? MENGAPA ENGKAU TIDAK HIDUP SEPERTI DIRIMU DENGAN SEGALA POTENSI YANG TELAH AKU BERIKAN?”

Pertanyaan itu mampu membuat saya bergidik. Mampu membuat saya mati untuk keduakalinya. Mampu membuat saya tidak akan hidup sebagai seorang utusan kehidupan. 

 

Pertanyaan ini untuk anda semua;

 

APAKAH ANDA MAU HIDUP SEPERTI BAGAIMANA ANDA DICIPTAKAN DAN DIMAKSUDKAN? 

 

Yah, inilah maksud blog ini dibuat. Untuk memberikan anda sedikit hembusan angin segar. Bisikan-bisikan yang lirih mengenai kehidupan. Dan kadang bukan suatu usulan yang menyenangkan. Namun maukah anda menerimanya?

 

“In my office, thinking about something while waiting for the rain ends”

Hari Shouts!!





Season of Change….

25 01 2009

Tahun Baru 2009… Year of hope?

 

Tahun 2008 serasa menjadi suatu parameter yang menarik bagi saya. Kehidupan yang turun naik dengan segala kejadian yang melintas. Jatuh bangun dalam masalah dan seringkali tidak bisa bangkit. Keadaan kesehatan yang memburuk dan terpaan “loading” pekerjaan yang menghantam dengan keras. Keinginan untuk berpindah tempat kerja yang begitu kuat dan ketidakbisaan saya untuk kembali menulis di blog. Teman-teman yang saya rasa mulai meninggalkan saya satu persatu. Kebiasaan buruk baru yang muncul dan menghancurkan kondisi fisik saya. Keadaan mental yang begitu “distort” dengan masalah perasaan saya. Kehilangan konsistensi dalam bekerja dan keluhan dari para mahasiswa. Hal ini, hal itu dan begitu banyak hal lain yang mengganggu saya di tahun 2008. Saya begitu merasa tidak diberkati dalam tahun 2008. Benarkah dugaan saya ini?

 

Kehidupan kadangkala membawa kita dalam suatu arus yang deras. Saya merasa sedang “rafting” dengan arus energi mikro dan makrokosmos yang begitu luar biasa. Saya mulai merasakan apa yang sedang dialami Salomo saat dia mulai menulis pengkotbah. Kesia-siaan hidup yang luar biasa. Saya mulai mempertanyakan arah kehidupan saya yang sesungguhnya. Saya mulai mempertanyakan untuk apa saya hidup. Saya mulai memprotes Allah yang memberikan saya hidup. Saya merasa kehidupan tidak berpihak pada saya. Saya mengeluh setiap hari, dan teman-teman saya mulai bosan melihat kehidupan saya yang mulai rusak. Saya merasakan keputus asaan Salomo, namun hal ini belum berhenti. Saya masih berhenti di persimpangan seperti dalam karya sastra Robert Frost. Saya belum memilih jalan mana yang akan saya pilih. Jalan itu memberikan begitu banyak kemungkinan. Jalan yang satu berisi mimpi-mimpi saya yang belum tercapai. Jalan yang begitu indah. Jalan yang penuh dengan rerumputan hijau yang segar, dan menawarkan pelarian dari segala kesulitan saya. Saya merasa bahwa itulah jalan yang harus saya pilih. Impian untuk melanjutkan studi saya di bidang psikologi, impian untuk bekerja di sebuah Universitas ternama di Tangerang, impian untuk menjalin kerjasama lebih lanjut dengan sebuah perusahaan di Bandung, impian untuk memanfaatkan waktu-waktu kosong saya dengan menulis, dan begitu banyak impian yang lainnya. Jalan yang satu memberikan gambaran yang begitu tidak saya sukai. Jalan yang begitu kering, jalan yang begitu suram, jalan yang hanya berkata bahwa “Aku ingin engkau tetap di tempat ini, engkau memiliki tanggung jawab atas anak-anak ini“. Bagi saya hal ini adalah suatu hal yang sangat konyol. Kegiatan keseharian yang membuat saya jenuh membuat saya sudah tidak dapat bergerak lagi dalam suatu semangat yang tinggi. Mengapa sekarang saya harus memilih jalan ini? Apakah saya tidak bisa memilih jalan yang saya inginkan seperti apa yang orang lain lakukan?

 

Menarik sekali saat kita melihat kebiasaan orang di Indonesia. Tahun baru seperti halnya Lebaran, selalu ditandai dengan kebiasaan mudik. Dari kebiasaan inilah, resolusi atas kehidupan saya mulai muncul. Seperti halnya sang Pengkotbah yang harus menjalani kehidupannya setapak demi setapak hingga menemukan resolusi yang sesungguhnya, maka hal ini pula yang terjadi dalam kehidupan saya. Saya pulang dan masih begitu putus asa akan kehidupan saya. Berjalan dengan teman-teman akrab saya setiap hari juga tidak menyembuhkan apapun dalam hati saya. Kebiasaan merokok yang sesungguhnya sudah hilang muncul kembali dalam kehidupan saya. Keluarga saya bingung dan tidak tahu bagaimana harus mengembalikan saya ke jalur yang seharusnya. Akhirnya keluarga saya menyerah dan berkata “Lebih baik kamu pindah dan mengejar impian-impianmu saat engkau menginginkannya, lagipula kamu masih muda dan pilihan terhampar di depanmu“. Konfirmasi dari Tuhan dan keluarga kah? atau saya memang memaksa keadaan saya sehingga resolusinya harus menjadi seperti itu? Saya sendiri tidak tahu, dan apa yang saya tahu serasa sudah tidak  ada artinya. Saya benar-benar putus asa. Fuhhh!!!

 

Salah satu kebiasaan rutin saya adalah membaca buku. Setiap orang, bahkan Tuhan pun tahu bahwa saya suka membaca buku. Dan bukan suatu rahasia umum lagi bahwa hal yang mungkin bisa mengubah pandangan hidup saya akan kehidupan adalah buku. namun dalam setengah tahun ini belum ada buku yang benar-benar bisa menggoncangkan paradigma saya akan kehidupan yang membosankan. Okay, saatnya berjalan-jalan di Salatiga dengan harapan menemukan buku yang dapat saya baca. Akhirnya kesempatan itu datang, saya dapat kesempatan untuk berjalan-jalan dengan kakak saya. Yah, tidak ada buku yang menarik. Sampai suatu saat saya naik ke lantai dua, dan tiba-tiba mata dan mata hati saya tertumpu pada suatu buku. Buku baru yang nampaknya begitu menarik dengan judul “Ketika mimpi-mimpi tak terwujud“. Buku ini karangan seorang rabi Yahudi terkenal bernama Harold S. Kushner. Apa sih yang menarik dari karangan seorang Rabi Yahudi? Mungkin postingan setelah ini yang akan membahas lebih dalam mengenai berbagai hal yang saya dapatkan melalui buku ini. Namun saya merasakan adanya suatu dorongan yang begitu kuat untuk membaca buku itu, saya tidak peduli judulnya, saya tidak peduli siapa yang menerbitkannya, dan saya tidak peduli siapa yang mengarang buku itu, namun nampaknya saya membutuhkan buku itu dan saya memutuskan untuk membelinya. Sebuah pelajaran untuk anda semua, belilah buku bukan hanya karena segi kognitif yang ditawarkan, namun juga dari berbagai segi lain yang mungkin rasanya seperti sebuah “hunch” bagi anda untuk membelinya. 

 

Saya membaca buku ini dalam waktu dua hari. Pada hari kedua, saya mulai menangis dan paham apa yang menjadi kesalahan saya. Saya terlalu “MENGASIHANI DIRI SENDIRI” dan berpaku pada “MIMPI-MIMPI PALSU”. Bukan suatu kebetulan jika pada hari kedua tersebut saya memiliki janji makan dengan seseorang (yap, seorang wanita namun jangan salah pikir dulu^_^). Orang ini “pure” teman saya dan seringkali banyak hal yang kami share bareng dalam kehidupan. The bad thing is, she start to smoke just like me. Ternyata setelah beberapa lama tak bertemu, dia memiliki masalah yang hampir sama dengan saya. Kami share selama hampir 4 jam, dan berbagai konklusi muncul di benak kami. Konklusi akan kehidupan yang lebih baik. Yeah, we share the book too and all of our feeling with our conditions also. Pembicaraan yang menarik bagi saya, dan kami akhirnya sempat juga mengunjungi Youth pastor kami yang baru saja menikah. Yeah, it’s a great day for me.  

 

Tepat pada tanggal 1 Januari, saya sakit. Cukup membuat saya jengkel karena di saat semua resolusi kehidupan itu mulai terbentuk, saya mulai merasakan keadaan fisik saya yang menurun. Hasil lab menunjukkan positif Demam Berdarah dan gejala Hepatitis. Waktu-waktu sakit ini semakin membuat saya berpikir, apa yang menjadi tujuan hidup saya. Jika saya seorang programmer, maka ini adalah saatnya untuk saya menulis program-program kehidupan saya. Saya belajar banyak hal dari buku itu, namun belum semuanya. Nampaknya masih ada banyak hal lagi yang ingin Tuhan nyatakan dalam kehidupan saya dan saya belajar untuk menghargai keputusanNya. Menarik memang melihat bagaimana, setiap riak-riak kecil di sungai itu membentuk suatu arus yang besar. Seperti halnya kehidupan, yang tidak hanya berupa produk jadi, namun harus terlebih dahulu terbentuk dari berbagai hal. Di akhir waktu mudik saya, saat saya akan segera pulang ke Malang, cek lab terakhir dilakukan. Yap, saya memang positif hepatitis walaupun masih kronis dan tidak akut. Namun, waktu-waktu itu saya bisa tersenyum. Fuhh!!! Ternyata memang ini resolusi kehidupan yang saya temukan saat berada di Salatiga. Saat itu hati saya hanya bisa tersenyum, walau fisik saya tidak dalam keadaan yang baik. 

 

Sekarang saya berada di Malang. Sedang mengerjakan resolusi saya. Mengerjakan??? Ya, mengerjakan!! Karena bagi saya resolusi bukan hanya suatu kata-kata, janji atau komitmen sesaat. Resolusi adalah “SIKAP HIDUP”. Resolusi adalah ap[a yang harus anda lakukan tanpa bertanya lagi dalam kehidupan anda. Anda bangkit atau terpuruk adalah keputusan anda sendiri dan bukan keputusan orang lain ataupun diputuskan oleh keadaan di sekitar anda. Anda adalah anda dan bukan orang lain. Tujuan hidup anda adalah program rancangan anda, dan keputusan anda lah yang nanti akan menentukan apakah Tuhan harus campur tangan dalam kehidupan anda atau tidak. Dan saya sudah memutuskan. Sekarang saya sudah tidak berada di persimpangan lagi. Saya mengikuti jalan yang nampaknya begitu buruk dalam pandangan saya. Jalan yang penuh dengan rutinitas, omelan, keraguan, kejenuhan dan berbagai hal lainnya yang tidak menyenangkan. Apakah saya meninggalkan impian saya? Tidak semuanya saya tinggalkan. Saya menyadari bahwa jalan yang nampak hijau tadi hanyalah “KESEMPATAN” namun bukan impian saya. Impian saya berada dalam ransel yang saya selalu bawa kemana-mana. Impian itu tidak pernah hilang. Saya menyadari bahwa jalan yang saya ambil akan bermuara pada suatu “PERHENTIAN“, dan perhentian itulah yang saya cari. Tujuan hidup saya, itulah perhentian saya kelak. Walaupun jalan itu kelihatan begitu bobrok, namun saat jalan itu adalah jalan satu-satunya yang mengarah ke tujuan saya maka saya akan mengambilnya. Saya bersyukur atas jalan ini, dan saya akan menjalaninya sebaik mungkin. Bukan masalah keputusan hidup saya yang menentukan saya akan kemana, namun SIKAP HIDUP / RESOLUSI saya. Saya masih berumur 25, saya masih begitu muda, walaupun begitu saya tahu bahwa saya bisa mati kapanpun. Saya memiliki pekerjaan yang sebenarnya penuh dengan tantangan, teman-teman yang luar biasa, dan lingkungan kerja yang menyenangkan. Saya memiliki tanggung jawab terhadap mahasiswa dan keluarga saya. Nama saya Hari Kristopo, dan saya sedang menjalani kehidupan saya dengan tujuan hidup yang sudah terprogram dalam kehidupan saya. Satu tahun mungkin begitu berarti, namun yang paling berarti adalah bagaimana kita menjalani setiap hari yang Tuhan sudah anugerahkan bagi kita. The last but not least, Selamat Tahun Baru 2009 untuk semua, biarlah tahun ini menjadi tahun yang penuh pengharapan bagi kita semua. GBU all

 

* next posting… Why i call it hasandal??… keep on posting








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.