Seorang pengembara berjalan dengan sedikit gontai. Beban di punggungnya begitu berat. Dia berjalan begitu gontai. Matanya hanya tertuju pada tujuan terakhirnya. Matanya begitu nanar melihat kota terakhir itu. Kakinya begitu tak sabar untuk melangkahkan jejak pertamanya. Angin yang berhembus begitu keras, mengisahkan kehidupan yang begitu berat. Penolakan, hinaan, kesendirian, dan ketidak adilan. Debu dan pasir yang dia lewati menapakkan kehidupan yang begitu kotor. Sakit hati, kekecewaan, Cinta yang tak berbalas, dan matinya sebuah perasaan. Sang pengembara mungkin adalah orang yang engkau kenal. Walaupun mungkin engkau mengenalnya, nampaknya ia tidak ingin mengenalmu kembali. Hidup menjadi begitu sulit baginya, saat semua orang meninggalkannya dan meludahinya dengan kata-kata yang pahit. Kubangan dosa dalam hidupnya begitu dalam, hingga akhirnya ia memutuskan untuk tidak mengakhiri hidupnya terlebih dahulu. Ia memutuskan untuk berjalan menyusuri kota demi kota. Mengumpulkan segala keindahan dunia yang dia bisa lihat. Mengumpulkan segala kenangan dari kota yang yang pernah dia singgahi, dan membawa semua artifak yang bisa dia temukan. Hidup tidak baik dipandang orang, namun hidup yang dipandang baik olehnya. Manusia memandang semuanya begitu nyata, namun baginya kenangan, impian dan pecahan adalah kenyataan yang lebih nyata daripada kehidupan.
Sang pengembara terduduk, dan termenung sejenak. Dia merasa begitu pening. Seperti dunia ini berpusing tanpa memberikan gravitasi yang mengikat kakinya. Sulit untuk mengerti perasaan ini. Dia bergumam dalam bahasa Farsi yang tidak dikenal banyak orang. Dia bergumam dalam bahasa para raja. Dia tidak mengeluh. Dia hanya bergumam. Bergumam mengenai doa-doa yang belum terjawab. Dia sadar, seringkali doa hanya bisa dipanjatkan dan mungkin tak bisa terjawab. Sebuah kenyataan yang pahit, namun harus bisa diterima oleh para manusia yang masih melangkahkan raganya di bumi. “Aku hidup dalam ragamu ya Allahku, aku hidup dalam pembelaanMu”. ” Aku hidup dalam rencanaMu ya Allahku, aku menyerahkan diriku dalam jalur kehidupan dan kematian yang telah Kau buat”. Nampaknya sang kuasa mendengarkan doa sang pengembara. Kekuatannya kembali pada raganya. kini dia siap melangkah ke kota terakhir, sebelum sang badai gurun itu menyapu habis semua harapannya lagi.
Sang pengembara akhirnya sampai di pintu gerbang harapan. Begitulah nama pintu gerbang itu, “pintu gerbang harapan”. Sebuah kota kecil yang seringkali dilupakan oleh orang. Kota terakhir di ujung bumi yang seringkali dirasa tidak berharga. Kota dimana orang-orang seperti sang pengembara ini membawa semua pecahan harapan mereka di masa lalu. Kota yang kecil dimana orang-orang seperti pengembara ini membawa kehidupan yang terluka. Dengan mengerahkan segenap tenaganya ia melangkah, satu langkah berharga yang membawa dia melewati pintu itu. Apakah yang dia lihat?
Pintu gerbang harapan bukanlah suatu pintu bagi kota yang kecil. Matanya terbelalak melihat kebesaran kota itu. Bukan karena ukuran kota yang sangat besar, ataupun banyaknya orang yang berjubel untuk melakukan aktivitas mereka. Ini semua bukan tentang itu. Kota ini bahkan jauh dari itu semua. Kota ini begitu sunyi, bahkan hanya beberapa orang yang mereka sebut sebagai “mihpares” yang menjaga kota ini tetap beroperasi. Inilah kota yang begitu jauh dari keramaian dan hiruk pikuk kesepian manusia. Kota yang memberikan harapan baru secara gratis. kota yang akan terus hidup hingga penghujung waktu berganti. Mata sang pengembara terbelalak saat dia melihat patung di tengah kota itu. patung yang begitu besar dan bertuliskan “Disinilah dikuburkan harapan-harapan lama, Disinilah dipupuk harapan-harapan baru, Disinilah manusia-manusia harapan mengembara kembali dalam kehidupan yang sejati“.
Sang pengembara memasuki pusat kota. Tidak ada orang yang menyapanya. Apakah ini yang disebut kota harapan? pikirnya. Apakah kota yang melahirkan harapan baru dan sejatinya kehidupan begitu hening seperti ini. Dia termangu, dan menunggu. Dia duduk di pojok pintu Rumah Kota. Tanpa dia sadari seekor burung terbang mendekatinya dan hinggap di pundaknya. Burung itu bergumam dalam bahasa Farsi. Burung itu tidak berkicau. Apakah aku salah mendengar? pikir sang pengembara. Tidak!! Tidak!! Aku tidak salah mendengar. Burung itu memang bergumam dalam bahasa Farsi. Bagaimana dia bisa berbicara? Pikir sang pengembara lagi. Bukan!! Bukan!! burung ini bukan bergumam, Dia melantunkan bahasa Farsi…. dan bahasa Farsi yang dia lantunkan adalah…..DOAKU!!!! Sang pengembara terkejut. Mahakarya dari ketiadaan yang ada, dan kehidupan yang disebut setelah kematian. Burung itu terbang sambil menarik pucuk baju sang pengembara. Sang pengembara pun akhirnya mengikutinya.
Sang pengembara dan burung itu tiba di suatu tempat. Suatu tempat yang dirasa tak asing baginya. Banyak wanita tua disana, merajut suatu jaring. Mereka bergumam dalam bahasa Farsi yang sama dengan burung itu. Namun, setiap orang hanya memperhatikan rajutannya, dan tidak memperhatikan sang pengembara. Suatu perasaan yang aneh. Pelan-pelan sang pengembara mendekati mereka. Ia melihat mata-mata para tua yang menangis darah, tangan-tangan yang mengucurkan darah dengan deras dan mulut-mulut yang terus menggumamkan suatu doa. Sang burung mengepakkan sayapnya dan pergi, serasa dia telah menyelesaikan tugasnya di tempat ini. Sang pengembara melihat ke arah cakrawala, dan sekilas ingatannya kembali. Ruang ini bagaikan rahim ibuku? Serasa aku pernah merasakan kehangatan yang sama.. Pikir sang Pengembara. Tiba-tiba terdengarlah suara yang begitu keras bagaikan halilintar menghardiknya “Sudah puaskah engkau melihat pekerjaan mereka”? Sambil gemetar dia menolehkan kepalanya ke arah suara itu. Seketika matanya terbelalak, dan lidahnya kelu. Tubuhnya bergidik takut dan merasa tanpa daya lagi untuk menapakkan kakinya di tanah. Dia melihat sesuatu yang dia cari selama ini. “Namun aku tak siap menemuiMu…” begitu pikir sang pengembara. Dia terjatuh dan pingsan.
To be continued!!
Next posting … second part of the traveller
“Memoir of Light”…
By Hari
Still waiting the rain at my office…
**
I definitely will go for the hope….never set out to have despair…
Patrisius
Ha ha ha, Yes i agree with you Sir… but how it ends? you will see it in the next chapter of this story. Then you can analyze the story, it’s a story about life. He he he, no hope, no despair… but if there’s any despair, does it always any hopes there? GBU Sir..
Hari
wait for the next story..
hopes, is it always show the gates into it? When we travel with some problem and question in our soul, will hopes answer and solve it?
Actually, I think that story just reflect our journey as human rigt ?
just curious, hehehehe…………
iya… tapi ceritane belon selese… masih ada lanjutane… it still very long. masih tertunda untuk diposting, harap ditunggu… wakakakakak….
@ Jan, keep having the hope yach…. never loose it…. ya, kamu emang bener bahwa it’s a story of human life….good analysis!!
Beraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaattttt…. T,T
eits, ini ndak ada hubungannya sama berat badan lho Pak ^^; Tapi emang tulisan ini masih terlalu berat buat saya yg baru memutuskan memasuki dunia tulis-menulis dan membaca ini. Hehehehe.. Jadi saya ndak nangkap maksudnya… Maap T,T
eniwe, saya terkesima….
it’s a fantasy into something real……. ha ha ha ha… keep reading n writing deh Del… he he he…
inilah tulisan sang Alchemist……..
“MENGGLEGARRRRR….”
Pak Hari… can’t wait for your “Memoirs of Light”
We’re all the travellers of life, and for me,hope will always be my light
Ayuuk pak lanjutannya… Smangat!!!
~Prita~
whoaaaa
this is a real good story!!!!
but, why’s light good and dark evil?
I never like the stereotyping though
what if beyond darkness is the light of hope?
isn’t that worth searching?